MUTIARA HIKMAH

#Ibnu Mas’ud Ra: Aku tidak menyesal seperti penyesalanku terhadap sehari yang berlalu, yang berarti jatah usiaku berkurang, sementara amalku tidak bertambah.

Selamat Datang di Blog Pribadi I S N A E N I

DPRD Kota Cirebon Dipaksa Setujui Pembentukan Provinsi Cirebon

Cirebon- DPRD Kota Cirebon dituntut memberikan persetujuannya terkait usulan pembentukan Provinsi Cirebon. Tuntutan ini datang dari seklompok pengunjuk rasa di depan gedung DPRD Kota Cirebon, Jalan Siliwangi Jawa Barat.

Wakil Ketua Presidium Pembentukan Provinsi Cirebon (P3C) Syukur Soleh menyesalkan sikap DPRD yang tidak aspiratif. Padahal, pihaknya sudah menggelar audiensi dengan lembaga legislatif itu sebanyak tujuh kali selama sekitar 2-3 tahun.

"Kepala Daerah, tokoh masyarakat, serta tokoh agama se-Ciayumajakuning telah membuat kesepakatan terbentuknya Provinsi Cirebon tahun 2012. Mendagri juga sudah memberi sinyal positif pada pertemuan dengan P3C 14 September lalu," ujar Syukur, Senin (21/11/2011).

Dia juga mengklaim pihaknya sudah mengantongi dukungan masyarakat. Termasuk sudah mengkaji secara teknis, yang meliputi tata ruang wilayah Provinsi Cirebon, calon pejabat Gubernur Sementara, hingga sarana prasarana untuk pelayanan kepemerintahan terhadap masyarakat.

Bahkan, pihaknya mengklaim telah memperoleh sinyal positif dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas pembentukan Provinsi Cirebon. Bukan cuma SBY, jajaran di bawahnya seperti Menteri Dalam Negeri, Gubernur Jawa Barat, dan kepala daerah di wilayah Ciayumajakun.
Sindonews.com
Read more »

Piramida Garut Lebih Tua Dari Piramida Mesir

Tim Katastropik Purba menemukan fakta mengagetkan sehubungan dengan misteri piramida Garut, Jawa Barat. Dari hasil penelitian intensif dan uji karbon dipastikan bahwa umur bangunan yang terpendam dalam gunung wilayah Garut lebih tua dari Piramida Giza yang berada di Mesir.

Tim Katastropik Purba sebelumnya telah melakukan penelitian intensif atas dugaan adanya bangunan berbentuk piramida di Desa Sadahurip, dekat Wanaraja, Garut, Jawa Barat.

“Dari beberapa gunung yang di dalamnya ada bangunan menyerupai piramid, setelah diteliti secara intensif dan uji carbon dating, dipastikan umurnya lebih tua dari Piramida Giza,” terang Andi Arief, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, dalam keterangan tertulis pada 20 November 2011.

Sekadar catatan, Piramida Giza selama ini dikenal sebagai piramida tertua dan terbesar dari 3 piramida yang ada di Nekropolis Giza. Piramida ini diyakini sebagai makam Firaun, Dinasti keempat Mesir, Khufu, yang dibangun selama lebih dari 20 tahun pada kurun waktu sekitar tahun 2560 sebelum Masehi.

Temuan Mencengangkan

Dalam beberapa waktu ke depan, lanjut Andi, Tim Katastropik Purba akan melakukan paparan publik tentang temuan-temuannya tersebut. Tak hanya soal temuan piramida di Garut tersebut, tim ini nantinya juga akan memaparkan temuan istimewa di kawasan Trowulan, Batu Jaya, beberapa lokasi menhir di Sumatera dan lain-lain.

“Ada temuan mencengangkan tentang uji carbon dating pada 3 lapis kebudayaan di kawasan Trowulan yang terlanjur kita sebut Majapahit pada zaman sejarah masehi itu. Juga tentang temuan-temuan lapisan sejarah di Lamri, Aceh, dan sekitarnya,” terang Andi.

Atas temuan ini, sambungnya, Tim Katastropik Purba akan terus berkoordinasi lintas ilmu kebumian sehubungan dengan temuan-temuan sejarah bencana-bencana lokal dan global untuk dicari mitigasinya.

Tim tersebut juga akan terus berkoordinasi dengan bidang kepurbakalaan, antropologi, arkeologi, pakar budaya, ahli sejarah dan lainnya. (ren)
sumber:vivanews.com
Read more »

Bahaya Cyberwar (Perang Cyber)

Sabtu, 12 November 2011. Sebuah ledakan dahsyat terdengar di pangkalan misil Alghadir di Bid Ganeh, barat Teheran. Guncangannya terasa hingga 30 mil jauhnya. Ledakan itu membunuh 17 anggota pasukan elit Iran, termasuk Mayor Jenderal Hassan Tehrani Moghaddam, arsitek program misil negeri tersebut.


Meski investigasi belum digelar, buru-buru Iran menegaskan bahwa ledakan itu bukanlah akibat sabotase yang dilakukan oleh musuh bebuyutan mereka. “Kasus tersebut murni kecelakaan, saat petugas tengah memindahkan amunisi. Tidak ada kaitannya dengan Israel ataupun Amerika Serikat,” kata Mayor Jenderal Hassan Firouzabadi, kepala staf militer Iran.

Padahal, dunia kini mafhum, itulah salah satu contoh yang menunjukkan betapa perang siber (cyberwar) bukan lagi sekadar dongeng fiksi, tapi telah menjadi bagian nyata dari percaturan dunia ini.

Dan Iran adalah salah satu negara yang kerap menjadi sasaran serangan siber Israel--yang mendapat dukungan penuh Amerika Serikat--khususnya terkait upaya Iran memperkaya uranium, salah satu komponen utama nuklir.

Serangan malware Stuxnet pada instalasi pengayaan nuklir Iran di Natanz pada tahun 2009 lalu adalah salah satu buktinya. Stuxnet mampu menyusup masuk dan menyabot sistem dengan cara memperlambat ataupun mempercepat motor penggerak, bahkan membuatnya berputar jauh di atas kecepatan maksimum. Kecepatan ini akan menghancurkan sentrifuse atau setidaknya merusak kemampuan alat itu untuk memproduksi bahan bakar uranium.

Malware paling canggih dan paling hebat yang pernah dibuat sepanjang sejarah itu diakui banyak kalangan sebagai serangan paling cerdas. Pengakuan itu bukan datang dari sembarang orang, tapi dari kalangan industri aplikasi pengamanan terkemuka dunia seperti Symantec (Amerika Serikat), Kaspersky (Rusia), dan F-Secure (Finlandia).

Satu catatannya: serangan ini hanya bisa dilakukan hanya dengan dukungan dari pemerintah negara tertentu. Ini karena Stuxnet terdiri dari program-program komputer kompleks yang pembuatannya memerlukan beragam keterampilan. Ia sangat canggih dan membutuhkan dana sangat besar untuk menciptakannya. Tidak banyak kelompok yang mampu melancarkan serangan seperti ini.

Para pakar Symantec memperkirakan pengerjaan Stuxnet membutuhkan tenaga 5 hingga 30 orang dalam waktu enam bulan. Selain itu, dibutuhkan pengetahuan sistem kontrol industri dan akses terhadap sistem itu untuk melakukan pengujian kualitasnya. Sekali lagi, ini mengindikaskan bahwa Stuxnet adalah sebuah proyek yang sangat terorganisir dan dibekingi dana besar.

“Kami benar-benar belum pernah melihat worm seperti ini sebelumnya,” kata Liam O’Murchu, peneliti Symantec Security Response. “Fakta bahwa worm ini dapat mengontrol cara kerja mesin fisik tentunya sangat mengkhawatirkan.”

Stuxnet sendiri 100 persen merupakan serangan siber terarah yang ditujukan untuk menghancurkan proses industri di dunia nyata. Banyak pakar keamanan bersepakat: Israel dan Amerika Serikat terlibat dalam serangan maya itu.

Dan benar saja.

Februari 2011, Daily Telegraph, harian asal Inggris, memberitakan dalam sebuah upacara perpisahan di Israel Defense Forces (IDF), Gabi Ashkenazi, sang mantan kepala staf IDF, mengatakan Stuxnet merupakan salah satu keberhasilan utama dia saat memimpin lembaga itu.

Pada Mei 2011, Need To Know, sebuah program mingguan stasiun TV PBS, Amerika Serikat, juga menayangkan pernyataan Gary Samore, Koordinator Gedung Putih untuk Pengendalian Senjata dan Senjata Pemusnah Massal. “Kami gembira bahwa mereka (Iran) mengalami masalah dengan mesin sentrifuse mereka dan kami–Amerika Serikat dan sekutunya–akan melakukan apapun yang kami bisa untuk memastikan bahwa mereka akan menghadapi masalah yang lebih rumit,” kata Samore.

Matra kelima

Jagat cyber kini bahkan telah didudukkan sebagai matra perang kelima--setelah darat, laut, udara, dan angkasa luar. Inovasi di bidang teknologi telah mengubah taktik dalam konflik di zaman modern dan membuat dunia maya menjadi medan perang terbaru.

Banyak perangkat mutakhir telah dibuat untuk keperluan ini. Dibantu oleh kemajuan teknologi elektromagnetik serta teknologi komunikasi dan informasi, sebuah bentuk pertempuran elektronik telah tercipta dan membuat pemerintahan berbagai negara melihat perang dunia maya sebagai ancaman terbesar di masa depan.

Alon Ben David, analis militer dari Channel 10 Israel menyebutkan: “Jika Anda punya beberapa orang pintar dan sebuah komputer yang bagus, Anda bisa melakukan banyak hal. Anda tidak perlu pesawat udara, tank, pasukan tentara. Anda bisa memasuki negara lain, menciptakan kerusakan besar tanpa perlu meninggalkan kursi empuk Anda,” ucapnya.

Dalam sebuah laporan eksklusif di harian Le Monde Perancis, jurnalis Nicky Hager berhasil menguak keberadaan instalasi Urim milik Unit 8200, yang merupakan salah satu instalasi pengintaian terbesar di dunia, setara dengan instalasi milik Amerika Serikat di Menwith Hill, Yorkshire, Inggris.

Instalasi yang dibangun sejak satu dekade yang lalu itu awalnya hanya bertugas memonitor percakapan internasional di jaringan satelit Intelsat dan stasiun relay telepon antar negara besar. Tapi kini ia juga bertugas mengawasi percakapan via satelit Inmarsat, juga menyadap kabel-kabel bawah laut.

Menurut sumber orang dalam, komputer-komputer di instalasi Negev diprogram untuk dapat memilah-milah kata serta berbagai pesan di percakapan telepon, email, dan data yang diintersepnya. Pesan-pesan yang berhasil disadap itu langsung dikirim ke markas besar Unit 8200 di Camp Glilot di kota Herzliya, sebelah utara Tel Aviv.

Di tempat itulah pesan-pesan dari berbagai bahasa itu diterjemahkan dan diteruskan ke agen-agen Mossad di negara lain maupun berbagai badan lain yang berkepentingan.

Yang harus dicatat dari Unit 8200 adalah kekuatan pasukan elite sibernya. Upaya dan obsesi Israel untuk memiliki kekuatan siber yang handal, telah dimulai sejak 1990-an. Saat itu para peretas (hacker) Israel cuma disodori dua pilihan: masuk bui atau bergabung dengan The Unit.

Kini, hasilnya tak main-main. Sebuah konsultan di AS memperhitungkan The Unit sebagai salah satu ancaman siber terbesar dunia, di samping China, Rusia, Iran, dan Perancis. Stuxnet adalah salah satu bukti konkretnya.

Angkatan perang siber

Kekuatan sebuah angkatan perang siber ditentukan oleh kemampuan serangan, pertahanan, serta ketergantungan suatu negara terhadap Internet. Dalam buku “Cyber War”, pakar keamanan komputer asal AS dan profesor di Universitas Harvard Richard A. Clarke dan Robert A. Knake memetakan kekuatan negara-negara dalam menghadapi perang siber.

Amerika Serikat, meski punya kemampuan serangan yang baik, tidak punya kemampuan untuk memutuskan jaringan Internet saat diserang, mengingat sebagian terbesar jaringan Internet di negara ini dimiliki dan dioperasikan oleh swasta. Sebaliknya, China memiliki kemampuan memutus seluruh jaringan Internet di negaranya bila suatu saat diserang. China juga mampu membatasi utilisasi trafik, dengan memutus koneksi dari para pengguna yang tak terlalu berkepentingan.

Namun negara yang dinilai paling mampu bertahan jika terjadi perang dunia maya, menurut Clarke, adalah Korea Utara. Negara ini mampu memutus koneksi Internetnya dengan lebih mudah ketimbang China. Bisa dibilang Korea Utara tak akan mengalami kerugian akibat serangan siber musuh, karena tak ada infrastruktur kritikal seperti pembangkit listrik, jalur kereta, atau jalur pipa yang tersambung ke Internet.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Muhammad Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure known (Id-SIRTII) menyebutkan, perang siber di negeri ini juga bukanlah hal baru. Sebagaimana perang-perang siber lain yang mewarnai tensi politik dan hubungan antara Indonesia dengan negara-negara lainnya, Indonesia sudah mulai terlibat perang siber sejak satu dekade yang lalu--mulai dari perang siber dengan Portugal pada 1999, dengan Australia, hingga cyberwar dengan Malaysia beberapa tahun terakhir.

Sayangnya, menurut salah satu pentolan kelompok peretas Antihackerlink, Arief Wicaksono, kemampuan para aktivis siber Indonesia bisa dikatakan masih belum mumpuni. Pasalnya, daya peretas di suatu negara biasanya sangat dipengaruhi oleh kualitas infrastruktur Internet serta tarifnya.

“Dari sisi kuantitas mungkin memang banyak insiden yang berasal dari Indonesia. Namun dari sisi kualitas, skill hacker Indonesia masih kurang optimal,” kata Arief yang kini menjadi koordinator Research and Development Antihackerlink.

Karenanya, menurut dia, perang siber di Indonesia masih sebatas serangan defacing atau mengubah tampilan desain sebuah laman web. Serangan jenis ini bisa dibilang hanya untuk mempermalukan, tapi terbilang tidak membahayakan.

Tapi, seiring dengan pertumbuhan Internet di Indonesia yang begitu cepat, dia percaya akan lebih banyak lagi infrastruktur strategis dan layanan publik yang akan semakin bergantung pada sistem informasi, teknologi, dan jaringan Internet, sehingga rentan terhadap serangan siber.

Menurut Salahuddien, kini pelanggan Internet reguler Indonesia ada sekitar 60 juta. Sekitar 90 juta pengguna ponsel juga telah mengakses Internet. Dalam dua tahun ke depan, kata Didien, diperkirakan pengguna Internet Indonesia akan mencapai sekitar 150 juta orang.

Jika sudah begitu, dia mengingatkan, “Ancaman perang informasi dan serangan cyber akan semakin meningkat dan menjadi medan pertempuran utama di masa mendatang, termasuk di Indonesia.” (kd)
• VIVAnews
Read more »

Pemerintah Atur Mekanisme Gaji PNS

VIVAnews- Pemerintah akan mengkaji mekanisme kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tiap tahun dilakukan. dalam pengkajian akan dimasukkan unsur kinerja dalam kenaikan gaji sebagai bagian dari reformasi birokrasi.

Wakil Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Eko Prasojo mengatakan pemerintah tengah mendesain sistem yang lebih komprehensif.

"Jadi menaikkan gaji seperti yang kita lakukan setiap tahun itu tidak berdampak pada kinerja," ujar Eko kepada VIVAnews, Selasa, 22 November 2011. "Kita lagi mencari cara untuk membangun sistem berbasis kinerja. Semacam merit sistem," tambahnya.

Eko mencontohkan dalam kenaikan gaji itu terdapat kontrak kinerja sehingga bisa diukur kinerjanya. Selain itu terdapat juga gaji pokok yang seharusnya lebih besar daripada tunjangan kerja. "Yang ada sekarang kan terbalik, jadi membuat tidak transparan," kata dia.

Pemerintah tengah menyiapkan regulatory framework, yaitu sejumlah peraturan pemerintah yang akan dibuat baru dan diperbaiki dalam waktu tiga bulan ini. Hal ini juga sambil menunggu Undang-undang Aparatur Sipil Negara. "DPR sendiri menargetkan dua bulan harus selesai, kalau ini selesai banyak hal yang bisa kita lakukan," tambah Eko.

Dalam kebijakan baru nanti untuk sistem pengisian jabatan juga dilakukan secara terbuka. Instansi akan memiliki jabatan eksekutif senior yang dijabat eselon I dan II. "Itu pasukan elit-nya aparatur sipil, kita bisa mobilisasi dari pusat sampai daerah, dengan kinerja dan syarat-syarat jabatan yang ketat sehingga nanti mereka bisa mengungkit perubahan-perubahan di birokrasi," ungkapnya.

Sementara untuk sistem perekrutan PNS, pemerintah tidak lagi menggunakan formasi. Pasalnya formasi dasarnya bukan pada kebutuhan melainkan pada basis kebutuhan dan kompetensi yang dibutuhkan. "Jadi nanti orang kalau mau melamar sebagai PNS dia harus mempunyai sertifikasi kompetensi atau keahlian dan dengan itu dia bisa melamar dari Sabang sampai Merauke," kata Eko.

Menurutnya kompetensi ini harus sesuai dengan pekerjaan yang dikerjakannya. Ia mencontohkan bisa saja lulusan ekonomi bekerja di sektor sosial tapi harus lulus ujian kompetensi terlebih dahulu. "Nanti ada lembaga khusus bisa swasta bisa negeri, tapi yang jelas mereka punya sertifikasi kompetensi itu," kata dia.
Read more »

 

KABAR MEDIA

TARBAWI

TIPS 'n TRIK