MUTIARA HIKMAH

#Ibnu Mas’ud Ra: Aku tidak menyesal seperti penyesalanku terhadap sehari yang berlalu, yang berarti jatah usiaku berkurang, sementara amalku tidak bertambah.

Selamat Datang di Blog Pribadi I S N A E N I

Piramida Garut Lebih Tua Dari Piramida Mesir

Tim Katastropik Purba menemukan fakta mengagetkan sehubungan dengan misteri piramida Garut, Jawa Barat. Dari hasil penelitian intensif dan uji karbon dipastikan bahwa umur bangunan yang terpendam dalam gunung wilayah Garut lebih tua dari Piramida Giza yang berada di Mesir.

Tim Katastropik Purba sebelumnya telah melakukan penelitian intensif atas dugaan adanya bangunan berbentuk piramida di Desa Sadahurip, dekat Wanaraja, Garut, Jawa Barat.

“Dari beberapa gunung yang di dalamnya ada bangunan menyerupai piramid, setelah diteliti secara intensif dan uji carbon dating, dipastikan umurnya lebih tua dari Piramida Giza,” terang Andi Arief, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, dalam keterangan tertulis pada 20 November 2011.

Sekadar catatan, Piramida Giza selama ini dikenal sebagai piramida tertua dan terbesar dari 3 piramida yang ada di Nekropolis Giza. Piramida ini diyakini sebagai makam Firaun, Dinasti keempat Mesir, Khufu, yang dibangun selama lebih dari 20 tahun pada kurun waktu sekitar tahun 2560 sebelum Masehi.

Temuan Mencengangkan

Dalam beberapa waktu ke depan, lanjut Andi, Tim Katastropik Purba akan melakukan paparan publik tentang temuan-temuannya tersebut. Tak hanya soal temuan piramida di Garut tersebut, tim ini nantinya juga akan memaparkan temuan istimewa di kawasan Trowulan, Batu Jaya, beberapa lokasi menhir di Sumatera dan lain-lain.

“Ada temuan mencengangkan tentang uji carbon dating pada 3 lapis kebudayaan di kawasan Trowulan yang terlanjur kita sebut Majapahit pada zaman sejarah masehi itu. Juga tentang temuan-temuan lapisan sejarah di Lamri, Aceh, dan sekitarnya,” terang Andi.

Atas temuan ini, sambungnya, Tim Katastropik Purba akan terus berkoordinasi lintas ilmu kebumian sehubungan dengan temuan-temuan sejarah bencana-bencana lokal dan global untuk dicari mitigasinya.

Tim tersebut juga akan terus berkoordinasi dengan bidang kepurbakalaan, antropologi, arkeologi, pakar budaya, ahli sejarah dan lainnya. (ren)
sumber:vivanews.com
Read more »

Bahaya Cyberwar (Perang Cyber)

Sabtu, 12 November 2011. Sebuah ledakan dahsyat terdengar di pangkalan misil Alghadir di Bid Ganeh, barat Teheran. Guncangannya terasa hingga 30 mil jauhnya. Ledakan itu membunuh 17 anggota pasukan elit Iran, termasuk Mayor Jenderal Hassan Tehrani Moghaddam, arsitek program misil negeri tersebut.


Meski investigasi belum digelar, buru-buru Iran menegaskan bahwa ledakan itu bukanlah akibat sabotase yang dilakukan oleh musuh bebuyutan mereka. “Kasus tersebut murni kecelakaan, saat petugas tengah memindahkan amunisi. Tidak ada kaitannya dengan Israel ataupun Amerika Serikat,” kata Mayor Jenderal Hassan Firouzabadi, kepala staf militer Iran.

Padahal, dunia kini mafhum, itulah salah satu contoh yang menunjukkan betapa perang siber (cyberwar) bukan lagi sekadar dongeng fiksi, tapi telah menjadi bagian nyata dari percaturan dunia ini.

Dan Iran adalah salah satu negara yang kerap menjadi sasaran serangan siber Israel--yang mendapat dukungan penuh Amerika Serikat--khususnya terkait upaya Iran memperkaya uranium, salah satu komponen utama nuklir.

Serangan malware Stuxnet pada instalasi pengayaan nuklir Iran di Natanz pada tahun 2009 lalu adalah salah satu buktinya. Stuxnet mampu menyusup masuk dan menyabot sistem dengan cara memperlambat ataupun mempercepat motor penggerak, bahkan membuatnya berputar jauh di atas kecepatan maksimum. Kecepatan ini akan menghancurkan sentrifuse atau setidaknya merusak kemampuan alat itu untuk memproduksi bahan bakar uranium.

Malware paling canggih dan paling hebat yang pernah dibuat sepanjang sejarah itu diakui banyak kalangan sebagai serangan paling cerdas. Pengakuan itu bukan datang dari sembarang orang, tapi dari kalangan industri aplikasi pengamanan terkemuka dunia seperti Symantec (Amerika Serikat), Kaspersky (Rusia), dan F-Secure (Finlandia).

Satu catatannya: serangan ini hanya bisa dilakukan hanya dengan dukungan dari pemerintah negara tertentu. Ini karena Stuxnet terdiri dari program-program komputer kompleks yang pembuatannya memerlukan beragam keterampilan. Ia sangat canggih dan membutuhkan dana sangat besar untuk menciptakannya. Tidak banyak kelompok yang mampu melancarkan serangan seperti ini.

Para pakar Symantec memperkirakan pengerjaan Stuxnet membutuhkan tenaga 5 hingga 30 orang dalam waktu enam bulan. Selain itu, dibutuhkan pengetahuan sistem kontrol industri dan akses terhadap sistem itu untuk melakukan pengujian kualitasnya. Sekali lagi, ini mengindikaskan bahwa Stuxnet adalah sebuah proyek yang sangat terorganisir dan dibekingi dana besar.

“Kami benar-benar belum pernah melihat worm seperti ini sebelumnya,” kata Liam O’Murchu, peneliti Symantec Security Response. “Fakta bahwa worm ini dapat mengontrol cara kerja mesin fisik tentunya sangat mengkhawatirkan.”

Stuxnet sendiri 100 persen merupakan serangan siber terarah yang ditujukan untuk menghancurkan proses industri di dunia nyata. Banyak pakar keamanan bersepakat: Israel dan Amerika Serikat terlibat dalam serangan maya itu.

Dan benar saja.

Februari 2011, Daily Telegraph, harian asal Inggris, memberitakan dalam sebuah upacara perpisahan di Israel Defense Forces (IDF), Gabi Ashkenazi, sang mantan kepala staf IDF, mengatakan Stuxnet merupakan salah satu keberhasilan utama dia saat memimpin lembaga itu.

Pada Mei 2011, Need To Know, sebuah program mingguan stasiun TV PBS, Amerika Serikat, juga menayangkan pernyataan Gary Samore, Koordinator Gedung Putih untuk Pengendalian Senjata dan Senjata Pemusnah Massal. “Kami gembira bahwa mereka (Iran) mengalami masalah dengan mesin sentrifuse mereka dan kami–Amerika Serikat dan sekutunya–akan melakukan apapun yang kami bisa untuk memastikan bahwa mereka akan menghadapi masalah yang lebih rumit,” kata Samore.

Matra kelima

Jagat cyber kini bahkan telah didudukkan sebagai matra perang kelima--setelah darat, laut, udara, dan angkasa luar. Inovasi di bidang teknologi telah mengubah taktik dalam konflik di zaman modern dan membuat dunia maya menjadi medan perang terbaru.

Banyak perangkat mutakhir telah dibuat untuk keperluan ini. Dibantu oleh kemajuan teknologi elektromagnetik serta teknologi komunikasi dan informasi, sebuah bentuk pertempuran elektronik telah tercipta dan membuat pemerintahan berbagai negara melihat perang dunia maya sebagai ancaman terbesar di masa depan.

Alon Ben David, analis militer dari Channel 10 Israel menyebutkan: “Jika Anda punya beberapa orang pintar dan sebuah komputer yang bagus, Anda bisa melakukan banyak hal. Anda tidak perlu pesawat udara, tank, pasukan tentara. Anda bisa memasuki negara lain, menciptakan kerusakan besar tanpa perlu meninggalkan kursi empuk Anda,” ucapnya.

Dalam sebuah laporan eksklusif di harian Le Monde Perancis, jurnalis Nicky Hager berhasil menguak keberadaan instalasi Urim milik Unit 8200, yang merupakan salah satu instalasi pengintaian terbesar di dunia, setara dengan instalasi milik Amerika Serikat di Menwith Hill, Yorkshire, Inggris.

Instalasi yang dibangun sejak satu dekade yang lalu itu awalnya hanya bertugas memonitor percakapan internasional di jaringan satelit Intelsat dan stasiun relay telepon antar negara besar. Tapi kini ia juga bertugas mengawasi percakapan via satelit Inmarsat, juga menyadap kabel-kabel bawah laut.

Menurut sumber orang dalam, komputer-komputer di instalasi Negev diprogram untuk dapat memilah-milah kata serta berbagai pesan di percakapan telepon, email, dan data yang diintersepnya. Pesan-pesan yang berhasil disadap itu langsung dikirim ke markas besar Unit 8200 di Camp Glilot di kota Herzliya, sebelah utara Tel Aviv.

Di tempat itulah pesan-pesan dari berbagai bahasa itu diterjemahkan dan diteruskan ke agen-agen Mossad di negara lain maupun berbagai badan lain yang berkepentingan.

Yang harus dicatat dari Unit 8200 adalah kekuatan pasukan elite sibernya. Upaya dan obsesi Israel untuk memiliki kekuatan siber yang handal, telah dimulai sejak 1990-an. Saat itu para peretas (hacker) Israel cuma disodori dua pilihan: masuk bui atau bergabung dengan The Unit.

Kini, hasilnya tak main-main. Sebuah konsultan di AS memperhitungkan The Unit sebagai salah satu ancaman siber terbesar dunia, di samping China, Rusia, Iran, dan Perancis. Stuxnet adalah salah satu bukti konkretnya.

Angkatan perang siber

Kekuatan sebuah angkatan perang siber ditentukan oleh kemampuan serangan, pertahanan, serta ketergantungan suatu negara terhadap Internet. Dalam buku “Cyber War”, pakar keamanan komputer asal AS dan profesor di Universitas Harvard Richard A. Clarke dan Robert A. Knake memetakan kekuatan negara-negara dalam menghadapi perang siber.

Amerika Serikat, meski punya kemampuan serangan yang baik, tidak punya kemampuan untuk memutuskan jaringan Internet saat diserang, mengingat sebagian terbesar jaringan Internet di negara ini dimiliki dan dioperasikan oleh swasta. Sebaliknya, China memiliki kemampuan memutus seluruh jaringan Internet di negaranya bila suatu saat diserang. China juga mampu membatasi utilisasi trafik, dengan memutus koneksi dari para pengguna yang tak terlalu berkepentingan.

Namun negara yang dinilai paling mampu bertahan jika terjadi perang dunia maya, menurut Clarke, adalah Korea Utara. Negara ini mampu memutus koneksi Internetnya dengan lebih mudah ketimbang China. Bisa dibilang Korea Utara tak akan mengalami kerugian akibat serangan siber musuh, karena tak ada infrastruktur kritikal seperti pembangkit listrik, jalur kereta, atau jalur pipa yang tersambung ke Internet.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Muhammad Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure known (Id-SIRTII) menyebutkan, perang siber di negeri ini juga bukanlah hal baru. Sebagaimana perang-perang siber lain yang mewarnai tensi politik dan hubungan antara Indonesia dengan negara-negara lainnya, Indonesia sudah mulai terlibat perang siber sejak satu dekade yang lalu--mulai dari perang siber dengan Portugal pada 1999, dengan Australia, hingga cyberwar dengan Malaysia beberapa tahun terakhir.

Sayangnya, menurut salah satu pentolan kelompok peretas Antihackerlink, Arief Wicaksono, kemampuan para aktivis siber Indonesia bisa dikatakan masih belum mumpuni. Pasalnya, daya peretas di suatu negara biasanya sangat dipengaruhi oleh kualitas infrastruktur Internet serta tarifnya.

“Dari sisi kuantitas mungkin memang banyak insiden yang berasal dari Indonesia. Namun dari sisi kualitas, skill hacker Indonesia masih kurang optimal,” kata Arief yang kini menjadi koordinator Research and Development Antihackerlink.

Karenanya, menurut dia, perang siber di Indonesia masih sebatas serangan defacing atau mengubah tampilan desain sebuah laman web. Serangan jenis ini bisa dibilang hanya untuk mempermalukan, tapi terbilang tidak membahayakan.

Tapi, seiring dengan pertumbuhan Internet di Indonesia yang begitu cepat, dia percaya akan lebih banyak lagi infrastruktur strategis dan layanan publik yang akan semakin bergantung pada sistem informasi, teknologi, dan jaringan Internet, sehingga rentan terhadap serangan siber.

Menurut Salahuddien, kini pelanggan Internet reguler Indonesia ada sekitar 60 juta. Sekitar 90 juta pengguna ponsel juga telah mengakses Internet. Dalam dua tahun ke depan, kata Didien, diperkirakan pengguna Internet Indonesia akan mencapai sekitar 150 juta orang.

Jika sudah begitu, dia mengingatkan, “Ancaman perang informasi dan serangan cyber akan semakin meningkat dan menjadi medan pertempuran utama di masa mendatang, termasuk di Indonesia.” (kd)
• VIVAnews
Read more »

Pemerintah Atur Mekanisme Gaji PNS

VIVAnews- Pemerintah akan mengkaji mekanisme kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tiap tahun dilakukan. dalam pengkajian akan dimasukkan unsur kinerja dalam kenaikan gaji sebagai bagian dari reformasi birokrasi.

Wakil Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Eko Prasojo mengatakan pemerintah tengah mendesain sistem yang lebih komprehensif.

"Jadi menaikkan gaji seperti yang kita lakukan setiap tahun itu tidak berdampak pada kinerja," ujar Eko kepada VIVAnews, Selasa, 22 November 2011. "Kita lagi mencari cara untuk membangun sistem berbasis kinerja. Semacam merit sistem," tambahnya.

Eko mencontohkan dalam kenaikan gaji itu terdapat kontrak kinerja sehingga bisa diukur kinerjanya. Selain itu terdapat juga gaji pokok yang seharusnya lebih besar daripada tunjangan kerja. "Yang ada sekarang kan terbalik, jadi membuat tidak transparan," kata dia.

Pemerintah tengah menyiapkan regulatory framework, yaitu sejumlah peraturan pemerintah yang akan dibuat baru dan diperbaiki dalam waktu tiga bulan ini. Hal ini juga sambil menunggu Undang-undang Aparatur Sipil Negara. "DPR sendiri menargetkan dua bulan harus selesai, kalau ini selesai banyak hal yang bisa kita lakukan," tambah Eko.

Dalam kebijakan baru nanti untuk sistem pengisian jabatan juga dilakukan secara terbuka. Instansi akan memiliki jabatan eksekutif senior yang dijabat eselon I dan II. "Itu pasukan elit-nya aparatur sipil, kita bisa mobilisasi dari pusat sampai daerah, dengan kinerja dan syarat-syarat jabatan yang ketat sehingga nanti mereka bisa mengungkit perubahan-perubahan di birokrasi," ungkapnya.

Sementara untuk sistem perekrutan PNS, pemerintah tidak lagi menggunakan formasi. Pasalnya formasi dasarnya bukan pada kebutuhan melainkan pada basis kebutuhan dan kompetensi yang dibutuhkan. "Jadi nanti orang kalau mau melamar sebagai PNS dia harus mempunyai sertifikasi kompetensi atau keahlian dan dengan itu dia bisa melamar dari Sabang sampai Merauke," kata Eko.

Menurutnya kompetensi ini harus sesuai dengan pekerjaan yang dikerjakannya. Ia mencontohkan bisa saja lulusan ekonomi bekerja di sektor sosial tapi harus lulus ujian kompetensi terlebih dahulu. "Nanti ada lembaga khusus bisa swasta bisa negeri, tapi yang jelas mereka punya sertifikasi kompetensi itu," kata dia.
Read more »

Lebih Dekat dengan Sosok Daenulhay

Daenulhay, alumnus Fakultas Teknik Industri, ITB, lahir di Serang, 23 Agustus 1952. Memulai karier di Krakatau Steel (KS) sebagai kepala seksi Method Engineering tahun 1983, dipercaya menjadi direktur utama pada 2003. Sebagai pucuk pimpinan, Daenulhay memancang beberapa target.
Misalnya, pada 2008 mencapai harga kompetitif dengan kualitas bersaing, 2013 menjadi produsen baja dominan dengan kapasitas 8 juta ton per tahun, dan 2020 mengejar kapasitas 20 juta ton per tahun. Namun, upaya merintis jalan ke sana tidak mudah. Persaingan dari negara-negara luar begitu ketat. Rabu (12/9), di kantornya di pabrik baja KS, Cilegon, Banten, Daenulhay menerima Yudit Marendra dan fotografer Sufri Yuliardi dari Warta Ekonomi untuk sebuah wawancara khusus seputar industri baja. Berikut petikannya.

Bagaimana peta persaingan industri baja dunia?

Dunia membutuhkan baja 1,1 miliar ton per tahun, yang 1/3-nya dikuasai Cina. Cina adalah pemimpin industri baja dunia, diikuti India. Kalau mereka bergabung, bisa menguasai 60% pasar baja dunia. Sebenarnya ada fenomena luar biasa di bisnis baja akibat bergabungnya Mittal (raja baja asal India) dengan Arcelor (perusahaan baja Luksemburg) yang bakal diresmikan tahun ini. Dengan merger itu, kapasitas produksi mereka menjadi 120-an juta ton per tahun. Ini dampaknya luar biasa karena mereka bisa melakukan subsidi silang. OK, rugi di sini tidak apa-apa, asal secara korporat tetap untung. Kita tidak boleh mengabaikan fenomena ini. Kita harus melakukan sesuatu yang dalam dunia baja dikenal istilah “tanpa aliansi, keluarlah kalian dari dunia baja”. Dampak yang paling terasa, harga baja sudah mulai stabil. Artinya, marginnya kian pas-pasan. Kalau kita tidak baik-baik me-manage pabrik, barangkali bisa rugi terus.

Kalau kondisi dalam negeri?

Konsumsi baja kita baru 29 kilogram per kapita per tahun, sementara negara lain rata-rata di atas 100 kilogram. Jadi, Indonesia masih menjadi pasar yang prospektif bagi Cina dan India. Itu artinya, kalau tidak cerdik bermain dengan mereka, lama-lama kita jadi pasar orang luar, termasuk Rusia. Nah, untuk bisa bertahan, kita harus melakukan aliansi.

Gabungan Pengusaha Pipa (Gapipa) mengeluh, mereka terancam bangkrut akibat serbuan pipa baja dari Cina. Apa masalahnya?

Soal itu sudah lama disuarakan kepada pemerintah. Hanya, sampai saat ini, pemerintah belum merespons secara sempurna. Artinya ya dikembalikan ke mekanisme pasar. Inti persoalan industri baja, baik di pipa maupun paku, adalah law enforcement dalam hal penetapan Standar Nasional Indonesia (SNI), bea masuk, atau persaingan usaha. Kami minta persaingan di pasar itu persaingan yang sehat. Jangan sampai produsen yang mengikuti SNI justru mati karena bersaing dengan produsen yang tidak standar.

KS bercita-cita menjadi perusahaan baja kelas dunia. Sanggup?

Kita lihat dulu definisinya. Sebuah perusahaan baja bisa mengklaim kelas dunia kalau kapasitas produksi minimumnya 5 juta ton per tahun, biaya pembuatan bajanya US$420–450 per ton, dan konsumsi listriknya di bawah 300 kWh per ton. Ikrar kami adalah menjadi perusahaan baja dunia pada 2008 dari sisi biaya yang US$420–450 per ton. Sekarang kami masih di atas itu. Namun, saya yakin, dengan adanya pabrik yang memanfaatkan bijih besi lokal dan batu bara, pada 2008 kami bisa menjadi perusahaan baja paling kompetitif dari sisi biaya.

Bukankah sejak dulu kita punya bahan baku baja, seperti bijih atau pasir besi?

Punya, hanya baru sekarang berani buka pabriknya. Kalau dulu, biaya mengolah bijih besi tersebut lebih mahal daripada membeli. Namun, dengan harga baja seperti sekarang, lebih baik memproduksi sendiri karena lebih efisien. Harga dasar bijih besi itu US$10–15 per ton, untuk harga dari pabrik US$40–45 per ton, dan dijual sebagai besi pelet US$100 per ton. Saat ini, 90% produknya kami impor dari Brasil. Ini karena pabrik kami lisensinya dari Meksiko, jadi bijih besinya cocok. Sisanya diimpor dari India, Timur Tengah, dan Australia.

Dari sisi kualitas dan harga?

Harga baja lembaran canai panas (hot rolled coil, HRC) US$580–600 per ton. Soal kualitas kami tidak main-main. Setiap tahun kami mengekspor bukan saja ke Malaysia, Singapura, dan Thailand, tetapi ke negara yang ketat soal kualitas, seperti Australia dan AS. Saat ini, 75% produk kami jual ke pasar dalam negeri, sisanya diekspor. Ekspor kami paling tinggi 60%, itu semasa krisis ekonomi.

Bukankah utilisasi pabrik-pabrik KS masih kurang maksimal?

Utilisasi pabrik kami paling bagus, 80%-an. Dalam perjalanannya selama 20 tahun lalu, kami baru dua kali rugi, yakni pada 2001 dan 2006. Pada 2001 memang industri baja sedang jatuh karena Rusia membutuhkan uang tunai, sehingga mereka tidak memikirkan lagi ongkos produksi. Lalu, pada 2006 akibat kenaikan harga BBM.

Bagaimana strategi Anda membawa KS di era persaingan global?

Strategi turnaround. Kami tata supaya kapasitas produksi menjadi maksimal, 1,8 juta ton. Lalu, kalau dulu ada enam direksi, kini hanya empat. Kami juga lakukan pembaruan perekrutan untuk kaderisasi. BUMN lain mengalami krisis tenaga kerja muda terdidik, kami tidak. Krisis seperti itu berbahaya dalam iklim persaingan yang serba cepat. Kami juga membuat organisasi yang simpel supaya bisa berlari cepat.

Anda mengeluhkan kebijakan tarif bea masuk 0%. Bukankah itu konsekuensi perdagangan bebas?

Malaysia mengenakan tarif bea masuk 50%. Sekarang, kita yang diinjak-injak terus oleh mereka kok sombong mengenakan tarif 0%. Thailand menerapkan tarif 25%. Ini kan sama saja kita memperkaya negara lain, bukan diri sendiri.

Menurut Anda, mengapa pemerintah berani menerapkan tarif 0%?

Sebab, ada permintaan dari pesaing kami, Essar, yang tidak diklarifikasi terlebih dahulu. Essar mengajukannya ke Menteri Perindustrian, tetapi itu sifatnya hanya rekomendasi. Eh, Menteri Keuangan menganggap itu sudah final. Jadi, mereka putuskan 0%. Itu sebabnya, dalam suatu seminar, saya menyampaikan masalah ini. Untunglah itu sudah dikoreksi. Tarif 0% berlaku hanya enam bulan, dan setelah itu akan ditinjau kembali.

Bukankah Essar berminat meminang KS?

Kalau Anda mencari mitra, yang suatu saat bakal mencaplok bisnis Anda, Anda mau? Jadi, ya lebih baik putus saja. Kami ingin mitra yang lebih langgeng. Kalau bicara ongkos, yang terbaik adalah Tata Steel. Kalau bicara manajemen, perusahaan-perusahaan Eropa lebih baik. Jadi, tergantung kebutuhan, dan masih terus kami evaluasi.

***

Di ruang kerjanya, Daenulhay memajang beberapa fotonya yang tengah berpose di lapangan golf. Kini, memang tinggal itulah olahraga Daenulhay. Selain itu, Daenulhay juga suka berorganisasi dan kerap diminta menjadi pembicara seminar. Itu pula sebabnya, dalam kapasitasnya sebagai ketua umum Gabungan Asosiasi Produsen Industri Baja Seluruh Indonesia, ia meminta pemerintah meninjau kembali pengenaan tarif bea masuk 0%. Kini, ia tengah menyiapkan KS untuk IPO.

Banyak kritik BUMN tidak seprofesional swasta. Bagaimana KS?

Budaya itu tidak muncul secara instan. Kami punya empat pilar: disiplin, keterbukaan, kerja sama, dan saling menghargai. Kami juga punya alat ukurnya, termasuk mengantisipasi penyelewengan. Prinsip saya, kalau ada karyawan yang menyeleweng, pertama, kami bina, kami beri tahu. Kalau masih salah, beri tahu lagi karena mungkin belum diberi contoh. Jadi, beri tahu dan beri contoh. Kalau nggak bisa juga, ya dibinasakan… hahaha.

Berapa banyak karyawan atas dan bawah yang sudah Anda tindak?

Atas atau bawah, kalau menyangkut moral, sama saja. Hanya, treatment-nya mungkin sedikit berbeda. Kalau yang atas kami mutasikan dulu. Penanganannya tidak bisa sembarangan. Apalagi kami ada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara serikat pekerja dan manajemen.

Ada anggapan, siapa yang menguasai baja, dia akan menguasai dunia. Pendapat Anda?

Itu benar, karena baja adalah tulang punggung industri. Dari baja lahir industri-industri lain. Mengapa Korea Selatan maju, karena memperhatikan industri bajanya. Itu sebabnya industri otomotif mereka berkembang. Di kehidupan kita pun semua ada bajanya. Sendok ada bajanya. Bahkan, di Alquran ada surat Al Hadiid (besi).

Pemerintah mendesak KS untuk IPO?

Kami sudah sampaikan ke DPR, yang terbaik adalah 2009. Namun, kalau pemerintah meminta 2008, ya kami siap saja.

Mengapa Anda minta 2009?

Kalau 2008, profitnya kami asumsikan baru Rp550 miliar. Jadi, total profit kalau dirata-ratakan Rp200 miliar per tahun. Sementara itu, saat ini aset kami kira-kira US$1 miliar, omzetnya Rp12–13 triliun. Kalah APBD Provinsi Banten yang Rp1,5 triliun.

Apa pengalaman paling berkesan selama Anda memimpin KS?

Wah, banyak. Tahun 2007, ketika KS berulang tahun, dan saya juga ulang tahun, saya dapat hadiah luar biasa. Saya bisa menjalankan misi menjadi perusahaan baja yang bisa memberikan solusi industri dan infrastruktur, bukan cuma jualan baja. Kami lakukan juga desain. Hadiahnya? Jembatan “TeKSas” dengan “KS” yang artinya Krakatau Steel. Jembatan itu menghubungkan Fakultas Teknik dan Fakultas Sastra, UI, di Depok. Itu hadiah HUT ke-37 KS. Kedua, saya meresmikan rotary killen (steel making) pabrik baja yang menghasilkan baja lokal. Memang kapasitasnya kecil, tetapi inovatif sekali dan murni inovasi karyawan. Ketiga, kami sudah memproduksi baja merah putih yang menjadi seng.

Apa hobi Anda?

Saya suka main golf, sebulan 2–3 kali. Kalau olahraga lain yang membutuhkan stamina, saya tidak mampu lagi karena keterbatasan fisik. Saya sudah diingatkan dokter supaya tidak terlalu capek, fitness dua kali seminggu. Saya fitness, tapi nggak kurus-kurus juga. Sekarang saya lagi suka buku-buku tentang bagaimana berdialog dengan Tuhan, dan sejenisnya… hehehe. Koleksi buku-buku saya sekarang berubah. Saya juga suka berorganisasi. Saya kini dipercaya jadi ketua ICMI Banten. Prinsip saya dalam berorganisasi adalah “ikan sepat ikan gabus ikan lele”. Makin cepat makin bagus tidak bertele-tele… hahaha.###
Read more »

 

KABAR MEDIA

TARBAWI

TIPS 'n TRIK